REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tiga suara dari tiga sudut pandang yang berbeda. Satu dari Moskow, satu dari Warsawa, satu dari London. Ketiganya berbicara tentang hal yang sama: Eropa sedang berubah dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, dan tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perubahan ini akan berakhir.
Yang pertama adalah Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, mantan presiden, dan salah satu suara paling keras Kremlin saat ini. Berikutnya adalah laporan resmi Badan Keamanan Dalam Negeri Polandia (ABW) yang dipublikasikan pekan ini oleh Claudia Ciobanu di Associated Press. Terakhir adalah Hugo Dixon, analis Reuters yang menulis tentang konsekuensi geopolitik jika Amerika Serikat benar-benar melonggarkan cengkeramannya di NATO.
Ketiganya tidak saling sepakat dalam banyak hal. Tetapi ketiganya sepakat dalam satu hal: Eropa sedang berjalan di atas tanah yang bergetar.
Medvedev: Jerman Sedang Membangun Jalan Menuju Perang
Dmitry Medvedev menulis panjang lebar di Russia Today pada 7 Mei 2026. Tulisannya keras, penuh tuduhan, dan tidak menyembunyikan kecurigaan mendalam Moskow terhadap arah politik Berlin saat ini.
Medvedev memulai dengan mencatat bahwa ancaman Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari NATO, yang diungkapkan pada 27 Maret 2026 di sebuah forum investasi di Miami, telah mempercepat apa yang ia sebut sebagai "perpecahan terbesar antara Eropa dan Amerika dalam seratus tahun terakhir." Bagi Medvedev, celah itulah yang kini dimanfaatkan Jerman untuk memperbesar pengaruhnya di Eropa.
"Arah politik saat ini dapat mengarah pada skenario yang hampir mengerikan," tulis Medvedev. "Ini menunjukkan upaya untuk mewujudkan sentimen revanchis tergelap dari elite Jerman."
Medvedev menyebut bahwa Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz sedang menjalani militerisasi besar-besaran yang, menurutnya, bukan sekadar respons terhadap ancaman Rusia, melainkan bagian dari ambisi geopolitik yang lebih dalam.
Ia mencatat sejumlah angka yang memang sulit dibantah: pengeluaran militer Jerman pada 2024 mencapai 88,5 miliar dolar Amerika, naik 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan Jerman sebagai negara dengan anggaran pertahanan terbesar di Eropa. Dalam anggaran 2026, Jerman berencana menggelontorkan lebih dari 108 miliar euro untuk keperluan pertahanan.
Medvedev juga menyoroti rencana Jerman untuk meningkatkan kekuatan Bundeswehr dari 181.000 menjadi 460.000 personel aktif dan cadangan, serta pengerahan Brigade Lapis Baja ke-45 Bundeswehr di Lithuania, yang disebutnya sebagai "pengerahan pertama pasukan reguler Jerman di luar wilayah Jerman sejak Perang Dunia II."

7 hours ago
7












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447649/original/009619000_1765960341-pexels-qjpioneer-5652188.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210295/original/020455400_1746503932-cef51a0b-171c-465c-b961-0b620c5bafe2.jpg)

