Wamen Ekraf Dorong IP Lokal Tembus Pasar Global

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah terus mendorong ekonomi kreatif menjadi mesin pertumbuhan baru nasional melalui penguatan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) karya anak bangsa. Salah satu langkah yang dilakukan ialah memperkuat ekosistem kreatif sejak tingkat pendidikan vokasi hingga membuka peluang kolaborasi global bagi para kreator lokal.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar mengatakan, pengembangan IP tidak boleh dipandang sekadar karya kreatif, melainkan investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan. Hal itu disampaikan dalam ajang IP Expo 2026 di Jakarta.

“IP jangan dipandang sebagai beban, tetapi investasi jangka panjang karena dapat dikembangkan menjadi produk lain yang bernilai ekonomi,” kata Irene dalam sesi diskusi “Future Forward: Building Creative Champions”, Jumat (8/5).

Menurut Irene, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor ekonomi kreatif karena didukung keberagaman budaya dan talenta muda yang terus berkembang. Karena itu, pemerintah berupaya membangun cetak biru ekonomi kreatif yang terintegrasi agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas dan budaya.

Ia menilai, ajang IP Expo menjadi ruang strategis untuk mempertemukan IP lokal dengan pelaku industri internasional. Dengan demikian, karya kreatif Indonesia tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar global melalui kolaborasi lintas negara.

“Expo ini harus menjadi tempat bagi IP Indonesia menjajaki kolaborasi dengan IP asing agar dapat menembus pasar internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Program Manager Djarum Foundation⁠, Galuh Paskamagma, menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) kreatif sejak di bangku sekolah. Melalui kemitraan dengan SMK Raden Umar Said, pihaknya menerapkan sistem pembelajaran berbasis teaching factory yang terintegrasi dengan kebutuhan industri animasi.

Menurutnya, siswa di SMK Raden Umar Said tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga dilatih menghasilkan produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan pasar. Sejumlah IP hasil karya siswa bahkan telah berkembang menjadi produk komersial.

“Siswa wajib mengembangkan portofolio karya yang relevan dengan tren industri agar siap masuk dunia kerja,” katanya.

Saat ini, terdapat sedikitnya 10 IP hasil karya teaching factory RUS Animation Studio yang telah menghasilkan nilai ekonomi bagi sekolah. Beberapa di antaranya ialah Nyla, Sabda Alam, Unstring Your Heart, serta animasi Waka Kibo yang telah dikembangkan menjadi produk turunan berupa kartu uang elektronik melalui kolaborasi dengan sektor perbankan.

Galuh menambahkan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) justru dapat membantu proses kreatif siswa dalam industri animasi. Namun, aspek seperti cita rasa seni dan kemampuan membangun cerita emosional tetap menjadi kekuatan utama manusia yang belum dapat tergantikan AI.

Read Entire Article
Food |