Kinerja Perbankan 2026 Diprediksi Solid, Kredit dan Modal Jadi Penopang

17 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi kinerja perbankan pada 2026 akan tetap tumbuh solid. Pertumbuhan kredit dan permodalan diproyeksikan menguat pada tahun ini.

“Untuk tahun 2026, kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid dengan pertumbuhan kredit dan DPK (dana pihak ketiga) yang tetap stabil, ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 yang digelar secara daring, Jumat (9/1/2026).

Namun, Dian mengingatkan bahwa pertumbuhan kredit akan sangat bergantung pada faktor eksternal, seperti permintaan pembiayaan dari dunia usaha, kondisi iklim investasi, serta proses pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut juga perlu diperkuat.

“Tentu saja penguatan di seluruh aspek penopang pertumbuhan ekonomi nasional tersebut akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dian menjelaskan, berdasarkan data OJK per November 2025, intermediasi perbankan menunjukkan kinerja yang stabil dengan profil risiko yang terjaga serta likuiditas pada level yang memadai. Tercatat, pada November 2025, kredit tumbuh sebesar 7,74 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,36 persen (yoy), menjadi Rp 8.314,48 triliun.

“OJK mencatat terdapat peningkatan pertumbuhan kredit secara signifikan menjelang akhir tahun. Kinerja intermediasi hingga akhir 2025 diperkirakan semakin solid, dengan pertumbuhan kredit berada di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK,” ungkapnya.

Sementara itu, DPK diyakini akan mencapai pertumbuhan dua digit. Tercatat, DPK tumbuh sebesar 12,03 persen (yoy), meningkat dari 11,48 persen (yoy), menjadi Rp 9.899,07 triliun.

Hal tersebut menunjukkan perbankan mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit, serta sektor riil mulai menunjukkan perbaikan dari sisi permintaan.

Dian menerangkan, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98 persen (yoy). Selanjutnya, kredit konsumsi tumbuh 6,67 persen (yoy), sedangkan kredit modal kerja tumbuh 2,04 persen (yoy).

Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12 persen (yoy). Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan yang cukup berat atau masih terkontraksi.

Dian juga menyampaikan bahwa tren penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut. Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat turun 26 basis poin (yoy) menjadi 8,97 persen pada November 2025. Penurunan tersebut terutama didorong oleh turunnya suku bunga kredit modal kerja sebesar 44 basis poin (yoy).

Dari sisi penghimpunan dana, rata-rata tertimbang suku bunga DPK rupiah juga menurun 29 basis poin (yoy) menjadi 2,77 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada suku bunga deposito.

Sementara itu, likuiditas industri perbankan pada November 2025 tetap memadai, dengan rasio alat likuid non-core deposit (LNCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (ALDPK) masing-masing sebesar 131,49 persen dan 29,67 persen. Angka tersebut masih berada di atas ambang batas, masing-masing 50 persen dan 10 persen.

Adapun liquidity coverage ratio berada pada level 210,38 persen. Dian menyebutkan, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,21 persen, turun dari sebelumnya 2,25 persen. Sementara itu, NPL net membaik menjadi 0,86 persen dari 0,90 persen pada Oktober 2025. Loan at risk juga turun menjadi 9,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,41 persen.

“Ketahanan perbankan juga tetap kuat. Hal ini tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio yang berada pada level tinggi sebesar 26,05 persen, meski sedikit menurun dari 26,38 persen. Kondisi ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian global saat ini,” kata Dian.

Read Entire Article
Food |