REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian ibu prasejahtera, mengakses layanan keuangan kerap terasa menakutkan. Tak jarang muncul rasa sungkan, khawatir tidak dipahami atau sistem pinjaman yang mengharuskan adanya jaminan.
Namun pengalaman itu berubah ketika mereka berjumpa dengan Account Officer (AO) PNM. Pertemuan pertama sering berlangsung sederhana, di teras rumah, di balai warga, atau pun di area perkampungan yang hangat dan penuh kekeluargaan.
AO PNM datang dengan bahasa sederhana dan kesediaan untuk mendengar kebutuhan mereka. Mendapatkan pembiayaan tanpa agunan dan didampingi untuk tumbuh naik kelas.
Pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan. Tak jarang AO PNM mengenal nama anak-anak nasabah, memahami ritme usaha harian mereka, hingga mengerti kapan harus memberi dorongan dan cukup menjadi pendengar.
Relasi yang terbangun perlahan menghadirkan rasa aman bahwa ada yang mendampingi perjalanan mereka, apa pun kondisinya.
Setiap kunjungan rutin, setiap percakapan ringan, dan setiap solusi yang disampaikan dengan bahasa sederhana menjadi pengalaman yang membangun kepercayaan nasabah. Mereka tidak merasa dilayani dari jarak jauh, tetapi ditemani dari dekat.
Sekretaris Perusahaan PNM, L Dodot Patria Ary menegaskan, pendekatan ini merupakan bagian dari komitmen PNM menghadirkan layanan keuangan yang inklusif.
“PNM hadir untuk melayani masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan. Dengan akses pembiayaan yang bertanggung jawab dan pendampingan berkelanjutan, kami ingin mereka mendapat kesempatan memiliki produk keuangan yang aman,” ujarnya dalam keterangan Kamis (8/1/2025).
Menurut dia, pembiayaan tanpa pemberdayaan tidak cukup. “Kami tak hanya memberikan modal, juga pengetahuan, pendampingan, dan penguatan kapasitas usaha melalui AO. Tujuannya, kehidupan nasabah benar-benar menjadi lebih baik dan berkelanjutan.”
Di balik itu semua, AO PNM menjalankan perannya dengan hati. Mereka memahami, bagi nasabah layanan keuangan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari upaya bertahan dan memperbaiki kehidupan keluarga.
Ketika pengalaman tersebut dirangkai secara konsisten, lahirlah ikatan emosional yang kuat antara nasabah dan PNM.
Saat ibu-ibu prasejahtera merasa didengar, dimengerti, dan didampingi, di situlah pelayanan PNM terus berupaya menghadirkan rasa aman, harapan, dan keberanian untuk membangun masa depan lebih baik.

20 hours ago
4















































