Perbanas: Pertumbuhan Kredit 2026 Diproyeksikan Masih Single Digit

1 day ago 8

Pelaku UMKM memajang produk usahanya dalam acara BCA Syariah WEpreneur Summit 2025 di Jakarta, Senin (8/12/2025). BCA Syariah menggelar WEpreneur Summit yang merupakan program pemberdayaan pelaku UMKM perempuan dengan pendampingan bisnis, penguatan jaringan serta kolaborasi antar lintas pelaku usaha sehingga dapat meningkatkan kualitas produk UMKM berdaya saing global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai industri perbankan masih bersikap konservatif sehingga pertumbuhan kredit pada 2026 diproyeksikan tetap berada di level single digit. Proyeksi tersebut dipengaruhi permintaan sektor riil yang belum kuat serta ketidakpastian global.

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani mengatakan, kondisi tersebut terutama disebabkan belum munculnya dorongan permintaan kredit yang signifikan dari sektor riil. Padahal, likuiditas perbankan relatif memadai, sementara dunia usaha masih cenderung menahan diri untuk mengajukan pembiayaan baru.

“Rata-rata bank masih konservatif untuk tetap single digit. Mereka masih memperkirakan pertumbuhan sekitar 8–9 persen karena belum melihat pemicu permintaan kredit yang cukup tinggi,” kata Aviliani saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Lebih lanjut, Aviliani menilai optimisme baru akan mulai terbentuk apabila belanja dan aktivitas investasi badan usaha milik negara (BUMN) kembali meningkat. Menurut dia, skala belanja dan investasi BUMN yang besar kerap menjadi pemicu awal permintaan kredit.

Namun, realisasi kredit dari BUMN saat ini masih terbatas pada entitas tertentu yang proyeknya telah memasuki tahap implementasi.

Ia berharap mekanisme pengambilan keputusan investasi BUMN dapat disederhanakan pada tahun ini agar pergerakan sektor riil dapat berlangsung lebih cepat.

Dari sisi swasta, Aviliani menyebut minat terhadap kredit tetap ada meski belum merata. Permintaan terutama datang dari pelaku usaha yang memiliki kepastian permintaan atau bergerak di sektor berprospek jangka panjang. Sementara itu, pelaku usaha lain masih bersikap wait and see di tengah ketidakpastian global.

Adapun dari sisi usaha kecil dan menengah (UKM), Aviliani menilai segmen ini belum menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Ia juga mengingatkan bahwa UKM masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan permintaan dan inovasi.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Food |