REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Puluhan aktivis Forum United For Primates mendesak penghentian ekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian dan pengujian biomedis. Desakan tersebut ditujukan kepada pemerintah agar menghentikan kembali kebijakan ekspor monyet yang pada 2026 kembali dibuka setelah terakhir tercatat pada 2022.
Perwakilan Forum United For Primates, Angelina Pane, mengatakan penghentian ekspor monyet Indonesia ke laboratorium di luar negeri menjadi tuntutan utama dalam aksi yang digelar bertepatan dengan Hari Primata Internasional tersebut.
"Kami datang ke sini dengan tuntutan agar pejabat-pejabat negara dan pemerintah menghentikan ekspor monyet Indonesia untuk diuji coba di lab-lab Cina dan Amerika Serikat. Itu tuntutan terbesar kami," kata Angelina di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, pemerintah perlu mendengarkan suara masyarakat dan meninjau kembali kebijakan ekspor monyet ekor panjang. Ia menilai alasan pembukaan kembali ekspor dengan narasi populasi berlebih dan monyet sebagai hama tidak menyentuh persoalan utama yang terjadi di habitat satwa liar.
Angelina mengatakan hutan yang menjadi habitat monyet terus mengalami kerusakan akibat pembabatan dan kebakaran. Ketika habitat satwa liar berkurang, satwa tersebut kemudian keluar ke wilayah sekitar dan justru diberi label sebagai hama.
"Jangan sampai masyarakat kita dipecah belah dengan isu-isu bahwa monyet ekor panjang itu overpopulasi dan menjadi hama, lalu dari pemerintah solusinya adalah diekspor. Sedangkan akar permasalahannya adalah hutan-hutan kita dihancurkan, hutan-hutan kita dibakar, dan itu adalah habitat satwa liar," ujarnya.
Ia mengatakan monyet memiliki peran penting dalam ekosistem, salah satunya sebagai penebar biji-bijian yang membantu pertumbuhan tumbuhan dan menjaga kelestarian hutan. Karena itu, menurutnya, kerusakan habitat dan ekspor satwa untuk kepentingan pengujian tidak dapat dipisahkan dari persoalan perlindungan ekosistem.
Angelina juga mempertanyakan penggunaan monyet ekor panjang dalam pengujian biomedis. Menurut dia, saat ini telah tersedia alternatif metode penelitian yang tidak menggunakan hewan dan dinilai lebih etis serta relevan.
Sementara itu, perwakilan Forum United For Primates Amanda Faradifa mengatakan aksi tersebut juga menyuarakan penghentian penggunaan monyet ekor panjang dalam pengujian biomedis serta mendorong penggunaan new methodological approaches untuk penelitian dan pengujian.
"Yang disuarakan dalam aksi ini adalah penghentian ekspor monyet ekor panjang ke luar negeri untuk biomedis, kemudian meningkatkan eksplorasi penggunaan new methodological approaches untuk testing biomedis sehingga penggunaan monyet ekor panjang untuk tes dapat dihentikan," kata Amanda.
Berdasarkan siaran pers yang disampaikan dalam aksi tersebut, tuntutan penghentian ekspor telah disampaikan kepada Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Karantina Indonesia (Barantin). Pemerintah juga didesak meninjau kembali kebijakan dan kuota ekspor yang telah diterbitkan serta memperkuat pengembangan metode penelitian non-hewan.
Dalam data yang disampaikan, Indonesia kembali menerbitkan kuota ekspor monyet ekor panjang pada 2026 setelah terakhir tercatat pada 2022. Siaran pers mencatat kuota ekspor pada 2026 sebanyak 1.929 individu. Selain itu, terdapat laporan pembangunan fasilitas komersial di Kabupaten Mesuji, Lampung, dengan kapasitas sekitar 4.000 monyet ekor panjang untuk pembiakan dan ekspor ke fasilitas penelitian biomedis di luar negeri.
Desakan penghentian ekspor juga mendapat dukungan sejumlah figur publik, termasuk Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi. Aksi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta yang turut dihadiri Bandizt, bassis Shaggydog sekaligus pegiat perlindungan satwa. Menjadi bagian dari desakan agar pemerintah meninjau kembali kebijakan tersebut dan menghentikan penggunaan monyet ekor panjang dari Indonesia untuk kepentingan penelitian dan pengujian di luar negeri.

3 hours ago
5
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552488/original/035803500_1775810333-35830.jpg)







