RESSED UI Dorong Hilirisasi Tambang Terintegrasi dari Hulu hingga Produk Akhir

2 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) mendorong hilirisasi sektor pertambangan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari hulu hingga menghasilkan produk akhir. Langkah ini dinilai penting agar kekayaan mineral dan batu bara Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Ketua RESSED UI Ali Ahmudi mengatakan hilirisasi perlu dibangun sebagai satu ekosistem industri yang menghubungkan seluruh mata rantai pertambangan. Integrasi tersebut mencakup ketersediaan bahan baku dari mulut tambang, proses pengolahan, manufaktur, hingga produk akhir yang dapat diserap pasar domestik maupun global.

"Hilirisasi itu bukan hanya membangun smelter. Harus ada kepastian suplai dari hulu, kemudian hasil olahannya juga harus tersambung ke industri hilir sampai menjadi produk akhir," kata Ali di Jakarta, dikutip Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, pembangunan smelter hanya menjadi bagian tengah dari rantai hilirisasi. Keberadaan fasilitas pengolahan tidak akan optimal apabila tidak ditopang kepastian pasokan bahan baku dari hulu dan industri lanjutan yang mampu menyerap hasil pengolahan tersebut.

Ali menilai pola ekspor bahan mentah selama ini membuat manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia belum sebanding dengan besarnya kekayaan mineral yang dimiliki. Padahal, komoditas tambang dapat memberikan nilai ekonomi jauh lebih besar ketika diproses lebih lanjut hingga menjadi produk manufaktur.

"Kalau tidak dihilirisasi, itu tidak akan memberikan nilai tambah apa-apa, hanya menjadi bahan mentah. Tapi dengan hilirisasi, nilai tambahnya pasti berlipat-lipat," ujarnya.

Indonesia memiliki modal sumber daya yang besar untuk membangun ekosistem tersebut. Mengacu data Badan Geologi, Indonesia menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel global, serta memiliki posisi strategis dalam kepemilikan cadangan timah, bauksit, emas, batu bara, dan tembaga.

Besarnya cadangan tersebut dinilai perlu diikuti strategi pengelolaan yang mampu memperpanjang rantai nilai komoditas di dalam negeri. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari kegiatan pertambangan tidak hanya diperoleh pada tahap pengambilan dan pengolahan awal, tetapi juga melalui industri manufaktur hingga produk akhir.

Ali juga menyoroti masih adanya sebagian cadangan strategis yang dikuasai perusahaan asing. Menurut dia, peningkatan kepemilikan nasional sesuai regulasi pertambangan dapat menjadi salah satu langkah untuk memastikan manfaat kekayaan alam tersebut semakin besar dirasakan Indonesia.

Upaya tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 yang menempatkan kekayaan alam untuk dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Penguatan kepemilikan nasional dan pembangunan industri terintegrasi dinilai dapat membuat manfaat sumber daya tambang lebih optimal.

Ali kembali menegaskan tantangan utama bukan terletak pada tujuan hilirisasi, melainkan bagaimana seluruh mata rantai industrinya dapat berjalan secara terhubung.

"Problem kita bukan hilirisasinya, akan tetapi proses terjadinya hilirisasi itu yang kita permasalahkan," tuturnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Ahmad Erani Yustika mengatakan program hilirisasi nasional yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri dan kedua, mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

"Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini, itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang," kata Erani.

Ia mencontohkan kebutuhan kabel bawah laut yang selama ini masih banyak mengandalkan produk impor. Padahal, Indonesia memiliki cadangan tembaga yang besar sehingga komoditas tersebut dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan industri dalam negeri.

Menurut dia, hasil hilirisasi perlu terlebih dahulu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional. Apabila kebutuhan domestik telah tercukupi, kelebihan produksi baru dapat diarahkan untuk pasar ekspor.

Penerapan hilirisasi dengan pola tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat industri pertambangan, tetapi juga menciptakan keterkaitan dengan sektor manufaktur. Integrasi dari hulu hingga produk akhir menjadi penting agar kekayaan tambang memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.

Read Entire Article
Food |