Stabilitas Rupiah Jadi Kunci Tarik Investor Asing ke Pasar Saham

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan stabilitas nilai tukar (kurs) rupiah menjadi faktor kunci untuk menarik kembali minat investor asing ke pasar saham Indonesia. Rully menjelaskan bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih sejalan dengan sentimen global dan belum mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan.

“Selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor global cenderung akan tetap berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah. Stabilisasi nilai tukar akan menjadi prasyarat penting untuk melihat pembalikan aliran dana asing yang lebih berkelanjutan,” ujar Rully sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Meskipun demikian, data makroekonomi terbaru menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan ekspektasi, di antaranya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,61 persen year-on-year (yoy) pada kuartal I 2026.

“Masih terlalu dini untuk mengasumsikan bahwa penguatan ini akan berlanjut, mengingat aliran dana asing masih mencatatkan outflow dan belum terdapat katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar,” ujar Rully.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 ditopang kuat oleh belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga selama periode Ramadhan dan Lebaran.

“Pertumbuhan 5,61 persen (yoy) ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah yang meningkat signifikan hingga sekitar 21,8 persen (yoy), serta konsumsi domestik yang solid. Strategi frontloading stimulus fiskal turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi di awal tahun,” ujar Novani.

Di sisi lain, lanjutnya, secara kuartalan ekonomi masih mengalami kontraksi sekitar 0,8 persen quarter-to-quarter (qtq), yang mengindikasikan adanya faktor musiman.

“Kami melihat pertumbuhan berpotensi mengalami normalisasi pada kuartal berikutnya seiring meredanya efek Ramadhan dan Lebaran, serta berkurangnya dampak frontloading fiskal,” ujar Novani.

Dari mancanegara, ia mengatakan bahwa tekanan mulai terlihat melalui perlambatan ekspor dan peningkatan impor yang lebih kuat, serta kontraksi pada sektor pertambangan akibat pelemahan harga komoditas global.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Food |