REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada satu kenyataan yang sering terlupakan manusia ketika hidup terasa nyaman: tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. Selama hidup di dunia, manusia terbiasa melihat harta sebagai jalan keluar hampir bagi semua persoalan. Dengan uang, orang bisa membeli rumah, jabatan, pengaruh, bahkan kadang bisa mengubah perlakuan orang lain terhadap dirinya.
Namun Alquran menghadirkan sebuah gambaran yang menghancurkan seluruh keyakinan itu.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 36:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُۥ مَعَهُۥ لِيَفْتَدُوا۟ بِهِۦ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Innallażīna kafarụ lau anna lahum mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ liyaftadụ bihī min ‘ażābi yaumil-qiyāmati mā tuqubbila min-hum, wa lahum ‘ażābun alīm.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.”
Ayat ini menggambarkan keadaan manusia pada hari kiamat ketika seluruh ukuran dunia runtuh total. Orang-orang yang dahulu merasa kuat karena harta, kekuasaan, atau pengaruh akhirnya menyadari bahwa semua itu tidak mampu menyelamatkan mereka.
Bahkan Alquran menggambarkan seandainya seseorang memiliki seluruh isi bumi, lalu ditambah lagi sebanyak itu, semuanya tetap tidak cukup untuk menebus dirinya dari azab Allah.
Di dunia, manusia sering merasa semakin banyak yang dimiliki maka hidup akan semakin aman. Karena itu orang bekerja tanpa henti, mengejar kekayaan, kedudukan, dan pengakuan manusia. Banyak yang rela kehilangan ketenangan hidup, kehilangan waktu bersama keluarga, bahkan kehilangan kejujuran demi mengumpulkan sesuatu yang dianggap bisa menjamin masa depannya.
Padahal ayat ini sedang mengingatkan bahwa ada satu hari ketika seluruh nilai dunia tidak lagi berarti apa-apa.
Pada hari itu, orang kaya dan miskin berdiri sama. Tidak ada rekening bank, tidak ada jabatan, tidak ada koneksi, tidak ada gelar. Semua yang selama ini membuat manusia merasa besar mendadak menjadi kecil dan tak berguna.
Karena itu para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi juga peringatan agar manusia tidak tertipu oleh dunia.
Sebab salah satu penyakit terbesar manusia adalah merasa dunia terlalu penting.

6 hours ago
7













































