Mahasiswa ULM Sulap Buah Mangrove Jadi Kopi Alternatif di Pesisir Angsana

4 hours ago 10

ULM gali potensi pesisir Desa Angsana lewat kopi mangrove.

REPUBLIKA.CO.ID, ANGSANA, – Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) berhasil menciptakan inovasi kopi mangrove dari potensi pesisir di Desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Produk alternatif ini memanfaatkan buah mangrove jenis Rhizophora yang tumbuh subur di kawasan tersebut.

Koordinator kelompok 2 KKNT-LH ULM, Ahmad Ryan Faizal, menjelaskan bahwa ide pembuatan kopi mangrove muncul dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi lokal yang selama ini belum tersentuh. Buah yang digunakan dipilih secara selektif, yakni buah yang sudah jatuh secara alami.

"Buah mangrove yang sudah jatuh alami memiliki kandungan getah lebih sedikit dan rasanya lebih kuat," kata Ryan di Angsana, Selasa.

Proses Pengolahan yang Higienis

Proses pengolahan kopi mangrove dilakukan dengan beberapa tahapan. Langkah awal dimulai dengan membelah buah untuk mengambil bijinya. Biji tersebut kemudian dipotong kecil-kecil sebelum melalui proses perendaman.

Perendaman dilakukan selama satu hingga dua minggu untuk mengurangi kadar getah. Setelah itu, biji dikeringkan selama tiga hingga empat hari. Tahap akhir adalah menyangrai biji mangrove kering hingga mengeluarkan aroma khas yang menyerupai kopi pada umumnya.

Ryan menegaskan bahwa produk inovasi ini aman untuk dikonsumsi. Meskipun belum melalui uji resmi dari pemerintah, kopi mangrove telah diperkenalkan kepada warga dan mendapat sambutan yang sangat antusias.

Dukung Keberlanjutan Ekosistem

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ULM ini menekankan bahwa tujuan utama inovasi ini bukanlah untuk mendorong eksploitasi besar-besaran. Pihaknya justru ingin memperkenalkan alternatif pemanfaatan buah mangrove yang selama ini terabaikan.

"Kami berharap masyarakat semakin mengenal potensi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem. Hutan mangrove memiliki potensi lebih dari sekadar fungsi ekologis sebagai pelindung pesisir," tambah Ryan.

Berdasarkan data pemetaan Pemerintah Desa Angsana, luas hutan mangrove di wilayah tersebut mencapai sekitar 47 hektare. Saat ini, kawasan tersebut tengah dikembangkan menjadi desa wisata mangrove.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Food |