Hashim: Ada 22 Juta Keluarga Punya Rumah Tidak Layak

2 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebutuhan hunian layak di Indonesia masih berada di kisaran 20 juta hingga 27 juta rumah. Angka tersebut masih dalam proses finalisasi pemerintah, mencakup masyarakat yang belum memiliki rumah maupun yang tinggal di hunian tidak layak.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Pahlawan Harapan Sejahtera Indonesia Emas (PHSI) sekaligus Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan persoalan hunian layak masih menjadi salah satu tantangan besar perumahan nasional.

Dia menyebut berdasarkan data yang masih dikaji, terdapat sekitar 9 juta keluarga yang belum memiliki rumah layak. Sementara itu, jumlah keluarga yang sudah memiliki rumah tetapi huniannya tidak layak mencapai lebih dari 22 juta.

“Ada angka yang masih disangkut. Kalau nggak salah sensus ekonomi ya, sedang berjalan. Kita 20 sampai 27 juta. Belum final,” ujar Hashim dalam Penyerahan 30 Sertipikat Hak Milik Rumah Cahaya kepada Pahlawan Terlupakan di Jakarta, Senin (31/8/2026) malam.

Menurut Hashim, penyediaan rumah layak menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dia menilai kemerdekaan belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan apabila masih banyak masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal yang layak.

“Indonesia sudah merdeka 81 tahun, tetapi sebagian rakyat kita belum bahagia karena belum memiliki rumah yang layak,” katanya.

Hashim mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah kembali memberikan perhatian besar terhadap sektor perumahan. Penyediaan hunian layak, menurutnya, menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program Rumah Cahaya menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk menjawab persoalan tersebut. Melalui Yayasan PHSI, sebanyak 30 rumah dibangun bagi para pahlawan Indonesia dan keluarga pahlawan. BTN turut mendukung pembangunan rumah tersebut.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan dukungan terhadap penyediaan hunian tidak hanya dilakukan melalui pembiayaan KPR. Menurutnya, terdapat kelompok masyarakat yang tidak memungkinkan mengakses pembiayaan perumahan melalui skema kredit.

“Karena nggak semua segmen itu bisa pakai KPR, nggak semua segmen itu bisa pakai mencicil atau mengkredit. Dari sisi usia, kan teman-teman sudah lihat, sudah tidak memungkinkan,” ujar Nixon.

Selain Rumah Cahaya, Nixon mengatakan BTN telah mendukung pembangunan maupun renovasi 477 rumah sosial sepanjang 2022 hingga 2026. Program tersebut menyasar keluarga prasejahtera, masyarakat berpenghasilan rendah, nelayan, petani pesisir, hingga masyarakat terdampak bencana.

Read Entire Article
Food |