Majelis Adat Dayak Minta Perangkat Adat Perkuat Pengawasan Karhutla

4 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi kekeringan ekstrem yang berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) meminta masyarakat dan perangkat adat memperkuat pencegahan untuk mengantisipasi kebakaran meluas serta dampak asap terhadap kesehatan.

Dorongan tersebut disampaikan Presiden MADN Marthin Billa melalui Surat Imbauan MADN Nomor 566/MADN/S-I/VIII/2026. Dalam surat tersebut, MADN meminta jajaran Dewan Adat Dayak (DAD) di berbagai tingkatan meningkatkan pencegahan karhutla di wilayah masing-masing.

Salah satu langkah yang ditekankan ialah tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan hutan dan lahan yang kering.

“Dilarang keras membuang puntung rokok dalam keadaan menyala/hidup,” demikian salah satu poin dalam surat imbauan tersebut, dikutip Republika, Selasa (1/9/2026).

Marthin mengatakan kondisi darurat asap dan kekeringan ekstrem telah melanda wilayah Kalimantan selama hampir enam bulan terakhir. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan hutan dan lahan serta mengancam kesehatan masyarakat.

MADN juga meminta masyarakat menghentikan pembakaran sampah secara terbuka, terutama di sekitar vegetasi kering. Aktivitas tersebut dinilai dapat memicu percikan api yang kemudian menyebar ketika kondisi lahan sangat kering.

Selain itu, seluruh kegiatan pembakaran hutan, lahan, maupun semak belukar diminta dihentikan selama kondisi kekeringan ekstrem dan bencana asap masih berlangsung.

Untuk memperkuat pencegahan di tingkat masyarakat, MADN meminta perangkat adat meningkatkan pengawasan di wilayah masing-masing. Para Temenggung, Damang, Domong, dan kepala adat lainnya diminta turut memastikan langkah pencegahan berjalan.

MADN juga mendorong penanganan terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran melalui mekanisme hukum adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing wilayah.

Selain pencegahan di lapangan, Marthin mendorong upaya spiritual untuk menghadapi kondisi kekeringan. Para Temenggung, kepala adat, dan tokoh spiritual Dayak diminta menggelar ritual adat untuk memohon turunnya hujan sesuai tradisi masing-masing.

MADN juga mengajak masyarakat melaksanakan doa bersama lintas agama. Doa tersebut ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dengan harapan hujan segera turun dan bencana asap berakhir.

“Mempertebal iman dan secara serentak memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diturunkan hujan yang berkah dan bencana asap ini segera berakhir,” kata Marthin.

Read Entire Article
Food |