REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Kepala Desa (Kades) Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rowiyanto, tak diketahui keberadaannya selama lebih dari dua bulan. Dia terakhir kali terlihat pada 5 Desember 2025.
Warga Desa Sambeng, Khairul Hamzah (50 tahun), mengungkapkan, Rowiyanto terakhir kali terlihat pada 5 Desember 2025 seusai menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sambeng. Menurut Khairul, pada malam 4 Desember 2025, Rowiyanto juga sempat menghadiri rembuk desa.
"Pertemuan (tanggal 4 Desember 2026) tersebut membahas isu yang sedang hangat waktu itu, bahkan sampai sekarang, yakni terkait penolakan warga terhadap rencana tambang tanah uruk. Lokasi yang hendak dijadikan tambang itu merupakan tanah atau lahan pertanian produktif di mana warga menggantungkan kehidupan mereka," ungkap Khairul ketika diwawancara, Kamis (12/2/2026).
Khairul, yang juga merupakan Humas Paguyuban Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan dan Tanah Air (Gema Pelita) Sambeng, mengatakan, rembuk warga pada 4 Desember 2026 malam turut dihadiri perangkat desa, Kapolsek, dan Danramil. Menurut Khairul, sebelumnya memang sudah ada pertemuan dengan agenda sosialisasi rencana pertambangan tanah uruk pada 14 Juli 2025 yang difasilitasi perangkat Desa Sambeng.
Khairul mengeklaim, dalam acara sosialisasi tersebut, seluruh warga Desa Sambeng telah menyatakan menolak aktivitas pertambangan. Mereka pun menolak jika tanah atau ladangnya dijadikan tambang. Ketika pertemuan usai, warga merasa aspirasi mereka bakal diterima dan dilaksanakan.
"Sampai akhirnya perkiraan di bulan September, mulai terdengar isu bahwa tambang uruk itu akan tetap dilaksanakan. Katanya 80-90 persen warga Desa Sambeng sudah setuju. Warga heran, kok bisa? Kemarin kan sudah sama-sama menolak," ucap Khairul.
Warga Desa Sambeng pun saling mengonfirmasi satu sama lain. Menurut Khairul, saat itu, terdapat pula sekelompok orang atau tim yang berkeliling ke rumah-rumah warga. Mereka membujuk warga agar menerima aktivitas pertambangan di sana.
"Kami mendapatkan selentingan informasi yang secara hukum memang belum terkonfirmasi, bahwasannya tim itu ada keterkaitannya atau ada hubungannya dengan Pak Kades," ujar Khairul.
Setelah memperoleh kabar tersebut, Khairul bersama warga lainnya mengajukan dilaksanakan sebuah pertemuan lanjutan yang akhirnya digelar di balai desa pada 4 Desember 2025 lalu. Dalam pertemuan itu, warga kembali menegaskan bahwa mereka menolak pertambangan.
Khairul mengatakan, dalam pertemuan 4 Desember 2025 lalu, warga pun mengonfirmasi isu yang berkembang terkait Rowiyanto, termasuk perihal sikapnya soal hendak adanya pertambangan di Desa Sambeng. "Jawaban dalam pertemuan tersebut, Pak Kades menolak atau membantah bahwasanya tim (yang berkeliling ke rumah warga adalah) bentukan beliau. Tapi beliau mengakui tim itu dibentuk di rumah beliau," ucapnya.
Sementara ketika ditanya soal sikapnya terkait tambang, Kades Rowiyanto mengaku dirinya merasa terjepit. Khairul menduga, Rowiyanto mungkin "dituntut" menerima proyek tambang di Desa Sambeng oleh pimpinannnya. Namun dalam pertemuan tanggal 4 Desember 2026, Rowiyanto mengaku lebih condong kepada aspirasi warga.
Namun warga menuntut ketegasan sikap Rowiyanto. "Singkat cerita, akhirnya beliau membuat surat pernyataan bahwa beliau selaku Kades Sambeng membersamai warga dalam memperjuangkan penolakan rencana tambang uruk," ucap Khairul.

2 weeks ago
20



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












