Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.966 per Dolar AS, Sentuh Level Terendah Tahun Ini

8 hours ago 7

Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen menjadi Rp 17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026) sore. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS itu dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari eksternal, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.

"Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran," ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi bahwa perundingan mengalami kebuntuan.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Data yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan tetap bersikap ketat dalam kebijakan moneternya.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat (5/6/2026).

Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim memandang sentimen terhadap mata uang Garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Food |