REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bayangkan Anda sedang berjalan santai di depan rumah pada pukul tiga pagi, hanya untuk tiba-tiba merasakan rahang tajam mencengkeram kaki Anda di atas tanah kering. Itulah kengerian nyata yang dialami Karmin (49), warga Bangka Barat, yang harus bergulat dengan maut saat seekor buaya muara menyergapnya justru ketika ia sedang berada di daratan.
Fenomena ini bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur; buaya kini telah keluar dari habitatnya, merayap mendekati permukiman, dan memaksa kita bertanya: apa yang salah dengan alam kita?
Kejadian di Desa Sekarbiru, Bangka Barat, pada Selasa (10/2) kemarin menjadi bukti otentik bahwa batas antara habitat satwa liar dan ruang hidup manusia semakin kabur. Karmin beruntung bisa selamat setelah melawan menggunakan kayu, namun luka di kakinya menjadi saksi bisu betapa agresifnya predator ini.
Kapolres Bangka Barat, AKBP Pradana Aditya Nugraha, bahkan harus mengeluarkan peringatan "siaga satu" karena buaya-buaya di "kolong" (kolam bekas tambang timah) kini mulai berani naik ke daratan.
Kondisi serupa, bahkan lebih tragis, terjadi di Bintan, Kepulauan Riau. Belum kering luka di ingatan warga saat seorang nelayan tewas diserang pada pertengahan Januari 2026 lalu, BPBD Bintan mencatat bahwa serangan buaya kini sudah mencapai tahap meresahkan. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, empat nyawa menjadi sasaran, dengan dua di antaranya berakhir duka.
Daya Tarik Aroma Anyir dan Suhu yang Memanas
Mengapa buaya-buaya ini seolah "berpindah alamat"? Analisis dari BPBD Bintan mengungkap fakta menarik sekaligus miris. Pertama, adanya kebiasaan buruk masyarakat dan industri rumahan yang membuang limbah sisa makanan berbau anyir ke perairan. Sisa potongan ayam dari peternakan atau limbah pabrik ketam yang dibuang ke laut bertindak layaknya magnet yang memancing predator ini muncul ke permukaan.
Kedua, faktor alam yang tak bisa didebat: pemanasan global. Suhu air laut yang meningkat memaksa buaya mencari tempat yang lebih nyaman dan sumber makanan yang lebih mudah. Ketika suhu di dalam air tak lagi bersahabat, permukaan, dan sayangnya permukiman, menjadi pilihan logis bagi mereka.
Strategi Bertahan: Hindari Malam, Ubah Perilaku
Polisi dan otoritas penanggulangan bencana sepakat pada satu aturan emas: hindari aktivitas di dekat air pada malam hari. Buaya adalah pemburu nokturnal yang sangat agresif dalam kegelapan. Nelayan di Bintan kini disarankan untuk mengubah jadwal melaut menjadi setelah subuh demi menghindari kontak mata dengan sang predator.
sumber : Antara

7 hours ago
3



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5327442/original/074400200_1756181216-saus_dimsum.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5152422/original/035586500_1741248417-pexels-arief-setiawan-10066715.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275054/original/013394900_1751863195-powell-rasull-7YFfGE26kbs-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5180601/original/087708400_1743813847-Tips_menanam_sayuran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5381300/original/023859000_1760499702-Depositphotos_623846778_XL.jpg)

