REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah dentuman rudal dan lonjakan harga minyak yang menembus batas psikologis, dunia seperti sedang berdiri di tepi sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang regional. Iran tidak hanya bertahan, tetapi menyatakan siap berperang panjang.
Di sisi lain, Amerika Serikat justru membuka wacana yang lebih gamblang, mengincar sumber energi sebagai bagian dari strategi. Di antara keduanya, pasar global bergetar, jalur logistik terganggu, dan bayang-bayang krisis mulai terasa hingga ke dapur rumah tangga.
Situasi ini bukan lagi sekadar konflik militer, melainkan persimpangan geopolitik yang menentukan arah ekonomi dan stabilitas dunia. Lalu, di tengah semua itu, pertanyaan mendasarnya menjadi semakin mendesak untuk dijawab dengan merujuk laporan kantor berita internasional.
1. Apa pesan utama dari Iran dalam konflik ini?
Iran menegaskan bahwa mereka tidak berada dalam posisi defensif semata, melainkan siap mengendalikan arah perang.
Seorang pejabat keamanan Iran menegaskan bahwa durasi konflik tidak akan ditentukan oleh Amerika Serikat, melainkan oleh Teheran sendiri. Ia bahkan menolak klaim Washington bahwa perang akan segera berakhir.
“Ini adalah perang kita, dan kita tidak akan berhenti membela diri sampai kita memberi pelajaran bersejarah kepada Trump dan Netanyahu.”
(Sumber: Al Jazeera / CNN, )
Pesan ini menunjukkan bahwa Iran melihat konflik sebagai perang jangka panjang, bukan sekadar respons sementara.
2. Seberapa siap Iran menghadapi perang berkepanjangan?
Iran mengklaim telah menyiapkan kapasitas militer untuk konflik jangka panjang, termasuk penggunaan rudal dan drone.
Pejabat Iran menyebutkan bahwa sistem pertahanan terus diperkuat dan strategi tempur diperbarui untuk menghadapi serangan udara maupun darat.
Persenjataan rudal dan drone Iran “siap mendukung operasi jangka panjang.”
(Sumber: Al Jazeera / CNN, )
Ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga siap memperpanjang eskalasi sebagai strategi.
3. Apa tujuan Amerika Serikat dalam konflik ini?
Amerika Serikat, melalui pernyataan Presiden Donald Trump, mengindikasikan kepentingan strategis yang lebih luas, termasuk kontrol terhadap energi.
Trump secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk menguasai sumber minyak Iran, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah menguasai minyak di Iran.”
(Sumber: TRT World / Financial Times, )
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya soal keamanan, tetapi juga perebutan sumber daya.

3 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















