Alarm untuk RI! Penutupan Bab al-Mandeb Bisa Picu Lonjakan Biaya Hidup

3 hours ago 3

Penutupan Selat Bab al-Mandeb, menyusul penutupan Selat Hormuz, akan berpengaruh besar terhadap perdagangan global dan juga berpotensi mengguncang perekonomian Indonesia. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang di Timur Tengah antara Iran dan AS dan Israel diprediksi masih terus bergulir, menyusul keterlibatan kelompok Houthi Yaman yang mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Pakar ekonomi dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan, penutupan Selat Bab al-Mandeb, menyusul penutupan Selat Hormuz, akan berpengaruh besar terhadap perdagangan global dan juga berpotensi mengguncang perekonomian Indonesia.

“Pengaruhnya akan sangat besar karena pasar energi global bisa terkena tekanan dari dua chokepoint sekaligus (Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz),” ungkap Syafruddin saat dihubungi Republika, Senin (30/3/2026).

Ia menerangkan, Selat Hormuz sudah sangat penting karena menyalurkan lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia lewat laut dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum global. Selat Bab al-Mandeb juga bukan jalur kecil. EIA mencatat selat itu menampung sekitar 12 persen perdagangan minyak laut dan 8 persen perdagangan LNG dunia pada paruh pertama 2023.

Syafruddin menuturkan, jika Houthi benar-benar menutup Selat Bab al-Mandeb saat Selat Hormuz juga terganggu, kapal harus memutar lebih jauh, biaya asuransi melonjak, waktu pengiriman bertambah, dan harga energi akan melonjak lebih cepat.

“Dalam situasi seperti itu, masalahnya bukan hanya minyak mahal, tetapi juga pasokan yang terlambat, logistik yang macet, dan volatilitas harga yang makin liar. Bagi Asia, ini jauh lebih berbahaya karena kawasan ini berada di garis depan ketergantungan impor energi dari Timur Tengah,” terangnya.

Read Entire Article
Food |