REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah panasnya konflik Timur Tengah, kata-kata sering kali lebih berdaya ledak daripada senjata. Dalam sejarah panjang Republik Islam Iran, pernyataan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar retorika, melainkan arah ideologis yang membentuk kebijakan, strategi, bahkan eskalasi konflik global. Dari podium ke medan perang, ucapannya beresonansi, tidak hanya di Teheran, tetapi hingga Washington dan Tel Aviv.
Khamenei wafat pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran, sebuah serangan yang oleh Iran dipandang sebagai pembunuhan politik di tengah eskalasi perang regional.
Kabar wafatnya dikonfirmasi sehari kemudian oleh media resmi Iran, disertai penetapan masa berkabung nasional selama 40 hari dan gelombang duka yang meluas di dalam negeri.
Namun, bagi banyak pendukungnya, kematian Khamenei tidak dipandang sebagai akhir, melainkan transformasi, jasadnya mungkin telah gugur di tengah dentuman konflik, tetapi ruh perjuangan, gagasan perlawanan, dan semangat ideologinya diyakini tetap hidup, menyatu dalam narasi resistensi rakyat Iran menghadapi tekanan Amerika dan Israel, menjadi simbol bahwa dalam geopolitik modern, seorang pemimpin bisa wafat, tetapi makna yang ia tinggalkan justru semakin menguat dan melintasi batas waktu.
“Di negara kami, Ayatollah Khamenei akan dikenang sebagai seorang negarawan luar biasa yang memberikan kontribusi pribadi yang sangat besar dalam mengembangkan hubungan persahabatan Rusia–Iran,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin mengenang Khamenei yang wafat pada akhir Februari 2026, sebagaimana dimuat sejumlah kantor berita Rusia.
Berikut 10 kutipan paling berpengaruh Khamenei, yang memperlihatkan bagaimana bahasa menjadi instrumen geopolitik.
1. “Kami tidak mencari perang, tetapi kami siap membela diri.”
Sumber: Iran Primer (USIP)
Tanggal: 2019
Konteks: Pidato kebijakan luar negeri Iran
Pernyataan ini menjadi fondasi doktrin defensif Iran. “We do not seek war, but we are ready for defense.” Ungkapan ini mempengaruhi legitimasi bagi Iran untuk memperkuat militer tanpa dianggap agresor, sekaligus membingkai konflik sebagai “pembelaan diri”.
2. “Rezim Zionis adalah tumor kanker yang harus dihilangkan.”
Sumber: The Guardian (pidato militer Iran)
Tanggal: 2006
“The Zionist regime is a cancerous tumor that must be removed.”
Pernyataan ini menjadi salah satu retorika paling kontroversial, memperkeras konflik Iran–Israel dan memperkuat citra Iran sebagai musuh ideologis Israel.
3. “Amerika adalah kekaisaran yang runtuh.”
Sumber: Times of India
Tanggal: 17 Februari 2026
Konteks: Pidato terakhir sebelum wafat
“America is a crumbling empire.”
Narasi ini memperkuat keyakinan internal Iran bahwa dominasi AS sedang melemah, sekaligus membangun kepercayaan diri menghadapi konflik besar.

2 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















