REPUBLIKA.CO.ID, KETAPANG — Api datang lebih cepat dari perkiraan. Asap semakin pekat, sementara jalur keluar dari hutan gambut Desa Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat, satu per satu sulit dilalui.
Pada 8 Agustus 2026, dua mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (K2N) Universitas Indonesia (UI), yaitu Nnover Purba dari Program Studi Geografi dan Intisari dari Ilmu Ekonomi, merasakan langsung situasi itu.
Mereka semestinya menjalani aktivitas pendampingan patroli kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama The Power of Mama (TPOM), kelompok relawan perempuan yang selama ini aktif memantau kondisi lahan di Ketapang.
Namun, kondisi di lapangan berubah dengan cepat.
Dari sebuah posko di kawasan hutan gambut Sungai Besar, keduanya menyaksikan titik kebakaran muncul di sejumlah lokasi. Rencana patroli pun dihentikan lebih awal.
Ketika hendak meninggalkan kawasan hutan untuk kembali, jalan yang semula dapat dilalui justru mulai tertutup asap dan terputus oleh kobaran api.
Mereka mencoba keluar hingga empat atau lima kali. Namun setiap kali perjalanan terpaksa dihentikan dan mereka kembali ke posko.
Di tengah situasi itu, Nnover dan Intisari sempat berbincang sekitar 30 menit dengan petugas pemadam kebakaran dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang telah beberapa hari berjibaku memadamkan api.
Persoalan lain muncul. Sumber air dari parit-parit sekitar lokasi yang selama ini menjadi andalan untuk pemadaman mulai banyak berkurang.
Baru menjelang sore, mereka akhirnya berhasil menerobos kepungan asap dan meninggalkan kawasan hutan.
Bagi Nnover, pengalaman tersebut membuat persoalan karhutla yang selama ini dipelajari melalui data dan peta terasa jauh lebih nyata.
“Kita belajar dari data dan peta kalau karhutla itu masalah besar, tapi baru waktu terjebak di tengah asap itu saya sadar ini bukan cuma soal angka, ini soal orang-orang yang setiap tahun harus hidup di tengahnya,” katanya kepada Republika.co.id, menuturkan kisahnya, Jumat (4/9/2026).
Pengalaman itu terjadi setelah sekitar 10 hari mahasiswa K2N UI bergantian turun ke lapangan mendampingi TPOM.
Sebanyak 14 mahasiswa terlibat dalam program tersebut. Setiap hari, empat mahasiswa diterjunkan ke dua desa: dua orang ke Desa Pematang Gadung dan dua lainnya ke Desa Sungai Besar.

3 hours ago
8

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552488/original/035803500_1775810333-35830.jpg)









