NASA Ungkap Penyebab Karhutla di Indonesia Sulit Dipadamkan

5 hours ago 9

Personel Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lahan gambut yang terbakar di Sekunder C, Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (27/8/2026). Kementerian Kehutanan mengerahkan 758 personel Manggala Agni yang diperkuat 45 personel tambahan dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Lewat artikelnya yang dipublikasikan Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada Selasa (1/9/2026), kebakaran yang terjadi di Indonesia terjadi di tanah basah yang mengering terbakar secara lambat, dan tinggi polusi. Menurut NASA kebakaran lahan di Indonesia terkenal sulit dipadamkan karena mereka membara dalam temperatur rendah dan sering terbakar di bawah tumpukan deposit gambut yang tebal.

Dalam satu estimasi menurut NASA, gambut yang terbakar menghasilkan tiga kali partikel dibanding kebakaran di hutan tropis, lima kali lebih banyak dari sulfur oksida, tiga kali lebih banyak dari karbon organik, dan dua kali lebih banyak dari metana dan carbon monoksida.

Kebakaran gambut memunculkan sebuah tantangan di Indonesia, di mana Indonesia adalah tuan rumah dari 36 persen dari total lahan gambut tropis yang ada di dunia. Saat gambut mengering akibat musim kemarau panjang lanskap lahan gambut di Indonesia menjadi ladang kebakaran pada beberapa momen dalam tiga dekade terakhir, yang memproduksi selimut asap selama berpekan-pekan dan mengganggu aktivitas jutaan warga.

Saat kebakaran terjadi setiap tahunnya di Indonesia - fenomena El Nino sebelumnya terjadi pada 1997 dan 2015 - kebakaran memproduksi panas ekstrem pada beberapa dekade terakhir. Pola iklim, yang diasesmen oleh satelit NOAA saat ini dan menguat pada Agustus, secara tipikal memicu pengurangan tajam curah hujan yang turun di Indonesia.

"Indonesia baru tiga pekan berada pada musim kebakarannya, tapi kita melihat aktivitas kebakaran yang melaju secara tajam, sama seperti 2015," kata Robert Field, peneliti dari Universitas Columbia.

"El Nino yang kuat membuat musim kemarau lebih kering melampaui wilayah yang paling rentan di Indonesia dan memperburuk kebakaran, sebagaimana yang kita antisipasi itu akan terjadi," kata Field.

Read Entire Article
Food |